Selasa, 09 Oktober 2012

Kawin Suntik (IB) pada Ayam

  
Sperma Ayam
            Sperma didefinisikan sebagai ekskresi dari alat kelamin  jantan yang diejakulasikan secara normal kedalam saluran kelamin betina sewaktu kopulasi tetapi dapat pula ditampung dengan berbagai cara untuk keperluan Inseminasi Buatan (IB) (Toelihere, 1993). Produksi sperma mempunyai kualitas tinggi tergantung oleh pejantan yang dipelihara dalam keadaan baik (hafez, 1993). Nalbandov (1990) menyatakan bahwa sperma adalah campuran dari spermatozoa dan plasma sperma.
            Spermatozoa unggas terdiri dari bagian kepala, tengah dan bagian ekor. Akrosom terbentuk dari pengembangan apparatus golgi pada saat terjadinya spermatogenesis, sedangkan bagian tengah dan bagian ekor terbentuk dari perkembangan mitokondria dan cytoskeleton, dimana bagian tengah dan bagian ekor menentukan motilitas spermatozoa (Etches, 1996). Toelihere (1993) menyatakan bahwa sperma unggas mempunyai bentuk yang jauh berbeda dengan sperma ternak lainnya. Sperma unggas mempunyai kepala yang berbentuk silinder panjang dan akrosom yang runcing. Spermatozoa unggas mempunyai panjang 100 µm, lebar o,5 µm, volume 10 µm3, dan berdiameter 6µm (Etches, 1996).
            Plasma sperma pada ayam terdiri dari komponen-komponen seperti glukosa, glutamat, laktat, piruvat, α-ketoglutamat, karnilin, asetil karnitin, protein, dan ion-ion seperti Cl-, Na+­­, K+, Ca2+ (Etches, 1996). Cairan dalam sperma merupakan plasma yang mengandung sejumlah bahan organik dan anorganik. Ion organik utama adalah sodium dan khlorin, di samping itu terdapat kalsium dan magnesium dalam jumlah sedikit, dan potasium dalam jumlah yang banyak. Selanjutnya dijelaskan bahwa ion anorganik tersebut dalam viabilitas spermatozoa (Bearden dan Fuquay, 1997).
            Volume sperma ayam per ejakulasi sekitar 0,2 ml sampai 0,5 ml dengan rata-rata 0,25 ml (Hafez, 1993), sedangkan Etches (1996) menyatakan bahwa volume sperma ayam berkisar antara 0,1 sampai 0,9 ml. Sel sperma mulai kehilangan integrasinya beberapa saat setelah sperma dikoleksi dari ayam jantan sehingga akan menurunkan kemampuan dalam membuahi. Selanjutnya dijelaskan bahwa daya tahan hidup sel sperma unggas pada temperatur kamar hanya mampu bertahan selama 30 menit sejak diejakulasikan, kemudian sedikit demi sedikit sel sperma akan melemah sehingga fertilitas yang dihasilkan akan menurun sampai titik terendah yaitu nol persen pada beberapa jam kemudian (Tri-Yuwanta et al., 1998).

Penampungan Sperma Ayam
            Berbagai metode penampungan sperma untuk inseminasi buatan (IB) telah dikembangkan antara lain: metode pengurutan, elektroejakulasi, dan vagina buatan (Toelihere, 1993). Diantara metode tersebut penampungan sperma pada unggas lebih efektif dan menggunakan cara pengurutan pada bagian abdominal (Etches, 1996). Sastrodihardjo dan Resnawati (2003) menyatakan bahwa penampungan sperma dapat dilakukan dengan cara pengurutan atau massage pada bagian punggung pejantan, dimulai dari pangkal leher terus ke punggung hingga ke pangkal ekor dan diikuti dengan perut bagian belakang (abdomen) menuju ke kloaka. Pengurutan ini diulangi beberapa kali sehingga ayam pejantan menunjukkan libido maksimal yang ditandai oleh meregangnya bulu ekor ke atas dan mencuatnya kloaka.
            Pada penampungan komersial yang besar, penampungan sperma ayam dilakukan dengan menggunakan suatu alat penghisap khusus untuk menampung sperma langsung dari organ kopulatoris pejantan dan dihisap kedalam suatu botol thermos yang dipertahankan pada suhu 10 sampai 15oC yaitu suhu yang dapat memperlambat aktifitas metabolik spermatozoa tanpa merusak sel (Toelihere, 1993). Penampungan sperma pada ayam dapat dilakukan dengan metode vagina buatan yaitu suatu cara yang memerlukan keterampilan dan kesabaran tinggi. Pada ayam hutan jantan dapat dilakukan dengan ayam pilihan atau yang telah terbiasa dengan “kawin dodokan” (dipancing dengan induk dipegang), bila birahi ayam hutan jantang telah memuncak dan menaiki ayam betina pemancing, maka vagina buatan segera ditempatkan pada penis yang telah menyembul hingga terjadi ejakulasi (Tarigan dan Hermanto, 1993). Etches (1996) menyatakan bahwa pengambilan sperma pada unggas dapat dilakukan melalui penyedotan (pengambilan sperma dari bagian ampula menggunakan alat penyedot yang mengandung pengencer sperma bersuhu 15 oC).

Pengenceran Sperma
Pengenceran sperma merupakan usaha yang dilakukan untuk menjaga kualitas sperma tetap baik. Penambahan pengencer bertujuan untuk memperpanjang daya hidup spermatozoa, sehingga dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama (Toelihere, 1993). Pengencer yang baik harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain: bahan pengencer harus isotonik dengan sperma, mempunyai kesamaan konsentrasi ion bebas, berfungsi sebagai penyangga, melindungi sperma dari cold shock selama pendinginan, mengandung nutrien bagi metabolisme spermatozoa, dan mengendalikan kontaminasi  mikrobia (Bearden dan Fuquay, 1997).
            Menurut Etches (1996) larutan NaCl dapat digunakan sebagai salah satu bahan pengencer sperma unggas. Ridwan (2009) berpendapat bahwa larutan NaCl fisiologis 0,9% merupakan larutan isotonis dengan plasma darah yang berfungsi sebagai pengencer semen karena memiliki tekanan osmotik sama dengan semen.

Perkawinan
            Perkawinan pada unggas dapat dilakukan secara alam dan perkawinan secara buatan (Ensminger, 1980). Inseminasi buatan pada ayam dapat dikatakan sebagai teknik yang lebih baik dibanding dengan perkawinan secara alami karena perkembangan dan kemampuan testis pada ayam jantan semakin menurun selaras dengan umur ayam (Tri-Yuwanta dan Nys, 1990). Inseminasi buatan pada unggas merupakan bioteknologi yang penting dalam pelaksanaan breeding dan reproduksi ayam, selain itu juga digunakan untuk menguji pejantan untuk mendapatkan pejantan yang bermutu tinggi serta untuk meningkatkan breeding (Lake, 1983). Inseminasi buatan pada unggas tergantung pada ketersediaan sperma pada setiap inseminasi pada induk-induk betinadalam periode pemeliharaan. Inseminasi dilakukan dengan volume sperma, pengencer sperma, dan dosis dengan jumlah spermatozoa per induk betina yang sudah ditetukanterlebih dahulu (Wishart, 1987 dalam Froman, 1995). Inseminasi buatan meliputi penempatan sperma minmal 100-200 juta spermatozoa (progresif) dalam saluran vagina ayam betina. Kemampuan spermatozoa  untuk hidup dalam saluran reproduksi ayam betina maksimal 21 hari, spermatozoa disimpan dalam glandula oviduct (Tri-Yuwanta, 1995).
            Waktu yang ideal untuk memperoleh fertilitas yang tinggi adalah 6-10 hari (rata-rata 7 hari). Periode fertil atau maksimum fertil dihitung mulai hari ke 2 setelah IB dan berhubungan dengan kondisi fisiologis ayam pada saat proses pembentukan telur, jumlah sperma, dan kualitas sperma yang disimpan ( Hafez, 1987). Kunci pokok keberhasilan inseminasi tergantung pada jumlah spermatozoa yangterkumpuldipermukaanoocyt setelah ovulasi dan kehati-hatian dalam memperlakukan spermatozoa karena spermatozoa pada unggas mudah rusak dan cepat mati ( Wishart, 1987 dalam Forman, 1995). Menurut Hutt (1949) tolak ukur keberhasilan dari inseminasi pada ternak unggas dapat dilihat dari besarnya fertilitas telur yang dihasilkan, daya tetas dan produksi telur merupakan sifat yang diwariskan oleh tetua kepada keturunannya, meskipun sedikit kontribusinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Salam Peternak

Menyediakan berbagai macam ternak kesayangan berkualitas mulai dari AYAM KETAWA, AYAM SERAMA, KUCING, LANDAK MINI dan AJING. (Ternak2 tersebut merupakan hasil budidaya sendiri dan kelompok) Buat teman2 yang berminat silahkan hub. 0856 4349 0370