Minggu, 28 Oktober 2012

The Red Jungle Fowl


1. Ayam hutan Merah/Red Junglefowl (Gallus gallus Linnaeus, 1758)
Ayam hutan merah adalah jenis ayam liar yang paling dikenal. Daerah sebarannya sangat luas, mulai dari bagian timur Pakistan, India utara dan timur, Myanmar, barat daya Yunnan (RRC), Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam, Guangxi dan Pulau Hainan (tenggara RRC) hingga Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa dan Bali. Ayam ini kemudian diintroduksi ke Kalimantan, Filipina, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Tepian hutan dengan semak terbuka diselingi perdu, menjadi habitat favorit bagi ayam hutan merah.

Gambar 1. Bagian-Bagian tubuh Ayam hutan merah.
Ayam hutan merah termasuk jenis burung berukuran sedang hingga besar. Panjang total jantan berkisar antara 65-75 cm dengan kisaran berat 0,7 kg – 1,5 kg. Sedangkan betina memiliki panjang 40-45 cm dengan berat 0,5 – 1 kg.
Menurut MacKinnon et al. (2002), ciri-ciri ayam hutan merah jantan adalah jengger, muka dan gelambir berwarna merah, bulu leher terdiri dari kombinasi warna kuning, jingga, coklat dengan strip hitam vertikal di tengah, bulu tengkuk (tidak kelihatan di Gambar 1), penutup ekor dan penutup sayap berwarna hitam bercampur hijau atau biru perunggu.
Bulu mantel berwarna coklat berangan, bulu ekor panjang, dengan warna hitam bercampur hijau berkilauan. Tubuh bagian bawah juga berwarna hitam kehijauan. Kaki abu-abu kebiruan dengan taji yang melengkung dan runcing.  Secara sederhana, bagian-bagian tubuh ayam merah dapat dilihat pada Gambar 1 di atas.
 
Gambar 2. Sepasang Ayam hutan merah. Jantan (kiri) dan betina (kanan). Sumber: http://redjunglefowl.webs.com/idealspecimens.htm
Ayam hutan merah betina berwarna coklat suram. Bulu leher kuning kecoklatan dengan coretan hitam vertikal di tengah bulu. Ayam hutan betina yang masih asli sama sekali tidak memiliki jengger, gelambir dan taji.  Kalaupun ada, ukuran jengger dan gelambirnya sangat kecil. Profil ayam hutan merah jantan dan betina dapat dilihat pada Gambar 2 di atas.

Gambar 3. Ayam hutan merah jantan sedang berkokok di atas pohon.
Kukuruyuuuuuuk….. Ayam hutan jantan akan berkokok nyaring dari atas pohon, saat mentari mulai muncul di batas cakrawala. Kokoknya keras tapi tidak sepanjang kokok ayam kampung. Kokok ayam hutan juga tidak sepagi ayam kampung yang mulai berkokok sejak dinihari. Hal ini untuk menghindari datangnya hewan pemangsa, saat hari masih gelap. Jika tanah sudah benar-benar terang, ayam hutan akan turun menuju semak terbuka untuk mencari makan.
Ayam jantan memiliki beberapa macam suara kokokan dan panggilan yang kompleks. Kokok yang nyaring berfungsi untuk menegaskan kehadiran ayam jantan di tempat tertentu atau sebagai peringatan terhadap ayam jantan lain agar tidak melanggar batas teritorial. Saat menemukan makanan, ayam jantan akan memanggil betinanya dengan suara tertentu untuk mendekat agar lebih mudah dirayu. Jika melihat burung elang atau hewan pemangsa lainnya, ayam jantan akan memekik keras mengeluarkan nada peringatan.

Gambar 4. Ayam hutan merah jantan asli dengan tipe cuping berwarna merah, sedang mengais tanah mencari makan. Sumber: http://redjunglefowl.webs.com/idealspecimens.htm
Setelah turun dari pohon, ayam hutan akan segera sibuk mengais tanah dan serasah dedaunan untuk mencari serangga, biji-bijian, bunga, buah-buahan yang jatuh dari pohon, pucuk rumput dan hewan kecil lainnya (Gambar 4). Kadang-kadang, ayam hutan akan menelan beberapa butir pasir, untuk membantu mencerna biji-bijian dalam temboloknya.
Ayam jantan dewasa yang dominan, biasanya akan mencari makan dengan beberapa selir betinanya. Ayam betina yang memiliki anak yang baru menetas, cenderung agresif dan sedikit menjaga jarak dari ayam dewasa lainnya. Sedangkan pejantan dan betina muda, kadang-kadang soliter atau berkelompok menurut jenis kelaminnya masing-masing.
 
Gambar 5. Dua ekor ayam hutan jantan sedang bertarung. Sumber: http://redjunglefowl.webs.com/idealspecimens.htm.
Saat musim berbiak tiba, ayam jantan akan bertarung memperebutkan betina atau mempertahankan daerah teritorialnya (Gambar 5). Ayam jantan terkuat akan mendapatkan daerah teritorial yang lebih luas dan menarik perhatian beberapa ekor ayam betina.
Kemampuan berkelahi ayam hutan jantan tergolong sangat baik. Serangannya cepat. Gerakan kakinya juga gesit saat menghindar. Kelihaiannya dalam melompat dan bertempur di udara, jauh di atas rata-rata ayam domestik. Gaya bertarungnya sangat indah seperti ayam Filipina. Namun, bobot tubuhnya yang ringan menyebabkan ayam hutan tidak tahan pukul. Ayam hutan juga takut menghadapi ayam domestik yang berukuran jauh lebih besar seperti ayam kampung atau ayam Bangkok.
Bagi ayam betina, memilih pejantan yang paling kuat adalah syarat mutlak untuk hidup di alam liar.  Pejantan terkuat akan menghasilkan keturunan yang lebih baik, dapat memberikan perlindungan dari predator karena tingkat kewaspadaannya yang tinggi dan memperoleh akses bahan makanan yang lebih banyak di daerah teritorial yang lebih luas.

Gambar 6. Sarang ayam hutan merah di habitat aslinya. Sumber: http://rimbundahan.org/(2005).
Ayam hutan merah membuat sarangnya di atas tanah (Gambar 6). Sarang ini berada di dalam semak-semak,  tertutup oleh serasah daun dan ranting yang kering, agar terlindung dari sengatan cahaya matahari dan hujan. Betina akan bertelur sebanyak 2-12 butir setiap musim berbiak (tergantung sub-spesiesnya). Telur ini akan dierami selama 21 hari atau lebih hingga menetas.
 
Gambar 7. Dua anak ayam hutan dan tiga anak ayam kampung umur satu pekan. Perhatikan bulu sayap yang tumbuh sangat cepat pada anak ayam hutan. Bulu sayap ini berwarna putih abu-abu. Sayap anak ayam kampung tumbuh lebih lambat dan tetap berwarna coklat. Sumber: http://ayamhutan.tripod.com/junglefowl.html.
Anak ayam yang baru menetas berwarna kuning gelap dengan garis coklat besar di punggung dan kepalanya untuk berkamuflase. Bulu sayap tumbuh cepat berwarna coklat abu-abu keputihan (Gambar 7). Anak ayam umur satu pekan sudah mampu terbang dalam jarak pendek. Dalam beberapa pekan, anak ayam ini dapat terbang dengan cepat untuk menghindari pemangsa.
Menurut Dr. Shaik Mohamed Amin Babjee, seorang peneliti ayam hutan dari Malaysia, anak ayam hutan sangat sensitif terhadap gangguan sehingga mudah mengalami stress. Ketahanan tubuh juga tidak sekuat anak ayam kampung sehingga rentan terhadap berbagai macam penyakit.
Ayam hutan betina akan mengasuh anaknya hingga mampu mandiri dan mencari makan sendiri. Ayam betina mencapai umur dewasa dan siap kawin saat berumur 8-10 bulan. Sedangkan ayam jantan, mencapai usia dewasa sepenuhnya saat berumur sekitar 12 bulan. Dibandingkan jenis ayam lainnya, ayam hutan memiliki laju pertumbuhan yang lambat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Salam Peternak

Menyediakan berbagai macam ternak kesayangan berkualitas mulai dari AYAM KETAWA, AYAM SERAMA, KUCING, LANDAK MINI dan AJING. (Ternak2 tersebut merupakan hasil budidaya sendiri dan kelompok) Buat teman2 yang berminat silahkan hub. 0856 4349 0370